Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Senin, 27 Februari 2012

Perempuan Yang Dicintai Suamiku



Hepi dapat email yang inspiratif dari seorang teman cerita tentang cinta di bulan Cinta, dan pengin di sharingkan ke teman-teman. Semoga bermanfaat ya.... 


Kehidupan pernikahan kami awalnya baik-baik saja menurutku. Meskipun menjelang
pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik
dan lebih menuruti apa mauku.


Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi

ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian

mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit.
Aku pikir dia workaholic.



Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang

kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah

romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal-hal
seperti itu sebagai ungkapan sayang.



Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan

makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja

makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan
obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.



Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan

anak-anak kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku

menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.



Aku mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama 8 tahun pernikahan kami.

Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek

sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya,
dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena
sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang
perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama Meisha,
temannya Mario saat dulu kuliah.



Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah

melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar

indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan-akan waktu
berhenti berputar dan terpana dengan kalimat-kalimatnya yang ringan dan penuh
pesona. Setiap orang, laki-laki maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang
lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.



Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu,

Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang

akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang
mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu
dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.



Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada 

Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari
bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai
sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan
komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang,
ada pekerjaan yang membingungkan.


Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di

RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal,

karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa
dengan suara riangnya,



" Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau

makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak

Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba-tiba saja sepiring nasi itu sudah
habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang
terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku
yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !



Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya

membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih

sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya.
Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku
buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang
ke rumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa
sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.



Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu

manis, dia bisa hadir tiba-tiba, membawakan donat buat anak-anak, dan membawakan

ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan-jalan, kadang mengajakku nonton. kali
lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.



Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati

bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak

dihatinya.



Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka,

hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.



Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya

keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka

password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat
tante Meisha ?"



Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,



*Dear Meisha,*



*Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung

hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada

Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya,
karena dia ibu dari anak2ku.*



*Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh-sungguh

mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu,

tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak
menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik-konflik
terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak
sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk
mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku
menikahinya.*



*Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti

ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon-pohon beringin yang

tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti
pepohonan di hutan-hutan belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh 

dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.*

*Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang
lain dan aku adalah laki-laki yang sangat memegang komitmen pernikahan kami.
Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat
Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan
selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi
tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada
tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you
are the only one in my heart.*


*yours,*



*Mario*



Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru

berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan

menyayangiku.



Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia

mencintai perempuan lain.



Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari

untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari

bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.



Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan

tabunganku yang ku simpan dari sisa-sisa uang belanja, lalu aku belikan motor

untuk mengantar dan menjemput anak-anakku. Mario merasa heran, karena aku tidak
pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam-macam merek tas dan baju. Aku
terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu
terlalu lama pacaran, sedangkan teman-temanku sudah menikah semua. Ternyata dia
memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.



Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang

perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia

tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan
aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan
melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.



Mario terus menerus sakit-sakitan, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah

dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura-pura tidak tahu,

aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan
Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.



**********



Setahun kemudian…



Meisha membuka amplop surat-surat itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman

itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.



" *Mario, suamiku….*



*Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja

dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu

yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak
bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin
memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak
memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan
menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak
pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau
melakukan apa saja untukku…..*



*Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan

kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu

yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.*



*Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa 

kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi
istriku ?"*


*Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.*



*Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia

bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah

wanita yang sempurna yang engkau inginkan.*



*Istrimu,*



*Rima"*



*Di surat yang lain,



*"………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin

es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat

cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh
cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……"*



Disurat yang kesekian,



*"…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.* 


*Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah-marah padamu,
aku tidak lagi suka membanting-banting barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar
masak, dan selalu ku buatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros,
dan selalu menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku
selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu,
untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika
engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku
menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat
engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….*


*Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap

berusaha dan menantinya…….."*



Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya…

dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.



Disurat terakhir, pagi ini… 


*"…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun
lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang,
karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin
aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup,
karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.*


*Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran

dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak

sakit.*



*Tahukah engkau suamiku,*



*Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9

tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari

matamu, inikah tanda-tanda cinta mulai bersemi dihatimu ?………"*



Jelita menatap Meisha, dan bercerita,



" Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat

keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku

tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu,
dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah-marah kepadaku, tapi aku selalu
menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama
menyeberang jalan, tiba-tiba mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan
tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya
masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……" Jelita memeluk Meisha
dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit
di hatinya, tapi dia sangat dewasa.



Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario

mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.



*Dear Meisha,*



*Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah-marah

dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh

basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba-tiba aku
baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar….
Inikah tanda-tanda aku mulai mencintainya ?*



*Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan

besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil

mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena
dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan jiwaku….*



Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk

disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah

terjadi, Mario. *Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika
seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.*



Jakarta, 7 Januari 2009 (dedicated to my friend....may you rest in

peace...)



-- 



Yesterday is a history.

Tomorrow is a mystery.

Today is a gift.
That's why it's called "present". 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar :